Minggu, 20 Mei 2012

PROPOSAL PENELITIAN

PROPOSAL PENELITIAN
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK PADA PELAJARAN
IPA KELAS II SD TAMBAHMULYO 01 UPT DISDIK KECAMATAN JAKENAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa yang turut menentukan sikap, mental,perilaku, kepribadian dan kecerdasan anak adalah pendidikan, pengalamandan latihan-latihan yang diberikan dan dialami serta dilalui mereka sejakkecil. Jika diijinkan saya mengutip sebuah kalimat indah atau kata bijakyang dikemukakan oleh Carla Rinaldi dalam 30 Kiat Mencetak AnakKreatif Mandiri (2006.5), “Kesuksesan dalam pendidikan anak
sejak dini bergantung pada apakah pendidikan itu dapat berhubungan denganlingkungan belajar di rumah dan di sekolah. Hal itu di dasarkan padainteraksi dan komunikasi antara anak, guru dan orang tua”. Kalimat di atas saya hubungkan dengan kegiatan pembelajaran yang di lakukan oleh guru.Suatu kegiatan pembelajaran akan sangat bermakna bagi peserta didik,apabila kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan interaksi dankomunikasi yang baik antara guru dan peserta didiknya, artinya kegiatanpembelajaran yang dilakukan merupakan tempat bagi peserta didik dalammengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tujuanpendidikan yang ingin dicapai dapat terlaksana.
Usia 6-8 tahun otak anak masih dalam tahap perkembangan atau mengalamimasa kematangan. Pada usia delapan tahunnormalnya anak berada padajenjang kelas dua atau tiga SD yang sebenarnya masih merupakan masa-masa keemasan bagi anak, karena proses menerima dan menyerap berbagaibentuk pengalaman baik dari guru ataupun lingkungan sekitar akan denganmudah mereka terima.
Salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalahguru, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Dalam konteks ini, gurumempunyai peranan yang sangat besar dan strategis, karena gurulah yangberada di barisan paling depan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulangsung berhadapan dengan peserta didik dalam kegiatan pembelajaranyang di dalamnya mencakup kegiatan pentransferan ilmu pengetahuan danteknologi serta penanaman nilai-nilai positif melalui bimbingan dan jugatauladan.
Lebih jelasnya saya paparkan peran guru seperti yang dikemukakan olehtokoh pendidikan nasional kita Ki Hajar Dewantara, yaitu :
1.      Ing ngarsa sung tuladha.
Artinya bahwa seorang guru harus menjadi contoh yang baik. Baikdalam konteks pribadi maupun dalam lingkungan sosial. Guru harusmenjadi ihsan yang memiliki integritas sehingga dapat diterima dilingkungannya.
2.      Ing madya mangun karsa.
Guru diposisikan sebagai seorang motivator. Setiap gerak, perbuatan danperkataan seorang guru harus berkaitan dengan upaya menumbuhkanminat danin t eres t siswa terhadap sesuatu yang baru dan baik.
3.      Tut wuri handayani.
Seorang guru merupakan sosok yang memiliki kepribadian yang kuat.Guru secara terus-menerus harus selalu memberikan sumbangan yangpositif kepada dunia pendidikan. Guru tidak hanya memberikan suatupengawasan, tetapi juga selalu memantau perjalanan akademik danpsikis siswa.
Jika dilihat dari paparan diatas, maka tugas yang di emban oleh gurumemang sangat berat, namun sangatlah mulia. Untuk itu, sudah selayaknyaguru memiliki berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugasnya, agarmenjadi guru yang profesional. Apalagi dengan berkembangnya ilmupengetahuan dan teknologi, guru sebagai komponen utama dalampendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi atau bahkan diharapkanmampu melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologiyangberkembang di masyarakat. Melalui sentuhan-sentuhan guru di sekolah,diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensitinggi dan siap menghadapi tantangan hidup yang semakin keras. Guru danjuga dunia pendidikan pada umumnya diharapkan mampu menciptakansumber daya manusia yang berkualitas baik secara keilmuan maupun secarasikap mental yang positif.
Untuk itu, dalam proses pembelajaraan, metode, strategi atau kegiatanpembelajaran yang dilakukan oleh guru seyogyanya adalah sesuatu yangbenar-benar tepat dan bermakna, untuk memperoleh hasil yang maksimalsesuai dengan tahap perkembangan anak, maka strategi yang guru gunakan dalam menyampaikan sesuatu, baik yang berupa penanaman sikap, mental,perilaku, kepribadian maupun kecerdasan harus tepat sasaran, tujuhkecerdasan peserta didik sedapatnya harus dikembangkan secaraproporsional.
Yang sangat kita khawatirkan dan harus dihindari adalah jangan sampaimasa-masa keemasan anak tersebut malah terbalik, justru menjadi masa-masa penumpulan otak anak hanya karena strategi, teknik, metode ataumodel pembelajaran yang guru sampaikan tidak tepat dan tidak sesuaidengan masa perkembangan anak.
Jika membicarakan anak atau peserta didik, salah satu masalah yang seringdijumpai dalam dunia pendidikan kita adalah tentang prestasi belajar siswa.Masalah ini sepertinya menjadi momok yang cukup menakutkan bagipelaku-pelaku pendidikan kita. Baik itu pemerintah, satuan pendidikan,termasuk guru dan siswa juga terkait dalam hal tersebut, namun yang palingberhubungan dengan masalah itu adalah guru dan siswanya.
Menurut Wilhelm Maxt Wundt, seorang ahli psikologi menyatakan bahwapendidikan adalah masalah respons dari stimulus luar. “Ketidaktahuan akansesuatu adalah penyakit yang dapat disembuhkan, pendidikan direduksimenjadi sebuah modifikasi behavioral”. Dari pernyataan Wundt tersebut,dalam hal ini, guru sebagai orang yang memberikan stimulus. Guru yangsecara langsung bertanggung jawab terhadap bagaimana cara meningkatkanprestasi belajar siswanya, harus benar-benar kreatif dalam mengemas danmendesain proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.Artinya guru dapat menerapkan berbagai cara yang baik sebagai stimulusbagi siswa agarkekurangan yang dimiliki oleh siswa yang dianggap Wundtsebagai penyakit dapat disembuhkan dengan cara yang guru lakukan.
Berdasarkan pemasalahan diatas, peneliti akan mencoba menerapkan modelpembelajaran tematik dalam pelajaran IPA di kelas II SD. Karena menurutKunandar dalam Guru Profesional (2007 :331) model pembelajaran tematikmerupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapamatapelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.
Pendekatan tematik adalah sebuah cara untuk tidak membatasi anak dalamsebuah mata pelajaran dalam mempelajari sesuatu. Misalnya, sambil belajarmenyanyi seorang anak belajar alfabet. Atau sambil belajar mengenal hewania juga belajar mewarnai.
Ketika proses pembelajaran berlangsung, peserta didik tidak merasa sedangmempelajari satu mata pelajaran saja. Hal itu diharapkan agar peserta didikdapat memperoleh berbagai pengetahuan atau keterampilan hanya dalamsatu pertemuan saja.
Agar tujuan dari proses pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yangdiinginkan, maka guru sebelumnya harus benar-benar mengerti dan pahamtentang model pembelajarantematik, memahami cara menerapkan modelpembelajaran tematik, mengerti konsep dari tematik, agar dalam aplikasinyatidak terjadi kekeliruan sehingga berpengaruh pada keluaran “hasil” bagipeserta didik.
Menurut Kunandar (2007 :315), model pembelajaran tematikmemiliki beberapa kelebihan, yaitu :
1.      Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
2.      Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3.      Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4.      Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5.      Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerjasama.
6.      Memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7.      Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud mengadakan penelitian dikelas II SD Negeri Tambahmulyo 01 karena mengingat bahwa SD tersebut merupakan salah satu SD yang ada di Kecamatan Jakenan. Peneliti inginmengetahui sekaligus membuktikan apakah model pembelajaran tematik merupakan salah satu langkah yang digunakan guru di SD tersebutdapatmeningkatkan prestasi belajar para siswanya, sehingga SD tersebutmendapatkan predikat favorit dan dapat menghasilkan peserta didik yangbenar-benar berkualitas serta memahami materi ajar. Tujuan akhirnya adalahagar peserta didik dapat mengaplikasikan apa yang dipelajarinya, agar dapatmenyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kehidupansehari-hari.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi masalah yang dapat ditentukan adalah sebagai berikut :
1.      Pengalaman belajar siswa yang kurang mendukung terciptanya kemauan belajar siswa.
2.      Rendahnya prestasi belajar siswa.
3.      Kurangnya minat guru untuk menerapkan model pembelajaran yang tepat.
4.      Kurangnya kreativitas guru untuk menciptakan model pembelajaran yang tepat.
C.  Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka pembatasan masalah daripenelitian ini adalah bagaimana upaya meningkatkan prestasi belajar siswadengan menerapkan model pembelajaran tematik pada pelajaran IPA di Kelas II SD Negeri Tambahmulyo 01
D.  Perumusan Masalah
Dari batasan masalah diatas maka perumusan masalah yang dapat penelitirumuskan adalah “Apakah dengan penerapan model pembelajaran tematikdapat meningkatkan prestasi belajar siswa.”
E.  Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini peneliti bagi menjadi dua, yaitu :
1.      Tujuan umum
Sebagai motivasi bagi guru agar mau melaksanakan model pembelajarantematik dan mendorong minat belajar siswa karena menggunakan modelpembelajaran yang menarik.
2.      Tujuan khusus
Untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran tematik prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
F.  Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan di SD Negeri Tambahmulyo 01 ini menurut penelitimemiliki beberapa manfaat, yaitu
1.   Bagi Peneliti
Penelitian ini menjadi pengalaman, sebagai masukan sekaligus sebagaipengetahuan untuk mengetahui upaya meningkatkan prestasi belajarsiswa melalui model pembelajaran tematik.
2.   Bagi Guru
Jika hasil penelitian ini dirasakan dapat membantu proses pembelajaranmenjadi lebih baik, maka diharapkan dapat dijadikan sebagai bahanpertimbangan para guru agar dapat menerapkan model pembelajarantematik sebagai usaha memperbaiki dan menyempurnakan prosespembelajaran.
3.   Bagi Siswa
Dengan penelitian ini diharapkan prestasi belajar siswa meningkat
4.   Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian berikutnya.
G.  Batasan Istilah.
1.   Menurut W.J.S Purwadarminto ( 1987: 767 ) menyatakan bahwa
“prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurutkemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal - hal yangdikerjakan atau dilakukan“. Jadi prestasi belajar adalah hasil belajaryang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki danditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diriseseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasibelajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.
2.   Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orangsupaya diketahui (diturut),ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran“an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, caramengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.
Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian pembelajaran dapatdiartikan secara khusus, berdasarkan aliran psikologi tertentu.Pengertian pembelajaran menurut aliran-aliran tersebut sebagai berikut:Menurut psikologi daya pembelajaran adalah upaya melatih daya-dayayang ada pada jiwa manusia supaya menjadi lebih tajam atau lebih berfungsi. Sedangkan menurut psikologi kognitif, pembelajaran adalah usaha membantu siswa atau anak didik mencapai perubahan strukturkognitif melalui pemahaman. Psikologi humanistik, pembelajaranadalah usaha guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkanuntuk belajar (enjoy learning), yang membuat siswa dipanggil untukbelajar (Darsono, 2001: 24-25).
3.Model adalah pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan (Departemen P dan K, 1984:75). Definisi laindari model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya, dalam gambaranyang lebih sederhana serta mempunyai tingkat presentase yang bersifatmenyeluruh, atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanyamemusatkan perhatian pada beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya(Simamarta, 1983: ix – xii).

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasildan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa, sedangkan menurutW.J.S Purwadarminto ( 1987: 767) menyatakan bahwa “prestasi belajaradalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurut kemampuan anak padawaktu tertentu terhadap hal - hal yang dikerjakan atau dilakukan“.
Berdasarkan pendapat diatas, penulis berkesimpulan bahwa prestasi adalahsegala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yangmemuaskan.
Menurut Slameto (1995:2), belajar adalah “suatu proses usaha yangdilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yangbaru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalaminteraksi dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53),berpendapat belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsungdalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkanperubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dannilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant.” SelanjutnyaWinkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu buktikeberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukankegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.”
Kemudian Hamalik (1983:2), mendefinisikan belajar adalah “suatupertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalamcara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.”
Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerappengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah lakumanusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yangmendorong pribadi yang bersangkutan.
Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:2) memberikanpengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalamusaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”
Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah:“Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat.Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni:kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurangmemuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketigakriteria tersebut.”
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatanbelajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasimerupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajarsecara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri.Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbedaitu dapat kita temukan satu titik persamaan. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakantingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak danmenilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar.Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalammempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atauraport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.
Pengertian lainnya, prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapaimenurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai denganperkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yangdiperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapatdinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.
B.  Tinjauan Tentang model pembelajaran Tematik
A.  Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan implementasi dari Kurikulum TingkatSatuan Pendidikan (KTSP). Dasar pertimbangan pelaksanaanpembelajaran tematik ini merujuk pada tiga landasan, yaitu landasanfilosofis, psikologis, dan yuridis.
Ditinjau dari pengertiannya, pembelajaran adalah pengembanganpengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada saat seseorangindividu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. MenurutYunanto (2004:4), “Pembelajaran merupakan pendekatan belajar yangmemberi ruang kepada anak untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar.”
“Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokokpembicaraa” Depdiknas (2007:226). Selanjutnya menurut Kunandar(2007:311), “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankanberbagai konsep kepada anak didik secara utuh.” Dalam pembelajaran,tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satukesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didikdan membuat pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaranuntuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek prosesatau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Jadi,pembelajaran tematik adalah pembelajatan terpadu yang menggunakantema sebagai pemersatu materi yang terdapat di dalam beberapa matapelajaran dan diberikan dalam satu kali tatap muka.
Pembelajaran tematik dikemas dalam suatu tema atau bisa disebutdengan istilah tematik. Pendekatan tematik ini merupakan satu usahauntuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran dan nilaipembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema.Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yangmenggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaransehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik.Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, peserta didikakan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melaluipengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yangtelah dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaranyang menolak proses latihan/hafalan(drill ) sebagai dasar pembentukanpengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran inidimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yangmenekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna danberorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatanpembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajarsambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolakdari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersamapeserta didik dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan.
Tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1)   Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2)   Pesertadidik mampume mpelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi  
      dasar antar mata pelajarandalam tema yang sama;
3)   Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4)   Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik denganmengkaitkan mata pelajaran lain
      dengan pengalaman pribadi pesertadidik;
5)   Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan  
      dalam konteks tema yang jelas;
6)   Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapatberkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatukemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajarimatapelajaran lain;
7)   Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikansecara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalamdua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untukkegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Pembelajaran tematik mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri.
Adapun ciri khas pembelajaran tematik di antaranya:
1)   Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekolah dasar;
2)   Kegiatan yang dipilih dalam pembelajaran tematik bertitik tolak dari minat dan kebutuhan siswa;
3)   Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
4)   Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa;
5)   Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai denganpermasalahan yang sering ditemui peserta didik di lingkungannya; dan
6)   Mengembangkan keterampilan sosial siswa, misalnya: kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Penggabungan beberapa kompetensi dasar, indikator serta isi matapelajaran dalam pembelajaran tematik akan terjadi penghematan karenatumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Siswamampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materipembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan merupakantujuan akhir. Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapatpengertian mengenai proses dan materi pelajaran secara utuh pula.Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaankonsep akan semakin baik dan meningkat.
Karena pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancangberdasarkan tema-tema tertentu, maka dalam pembahasannya tema ituditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapatditinjau dari mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan matematika.Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, sepertiIPS, bahasa, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dankedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yangsangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalampendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasapembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktifmenjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasaingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitarmereka.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai  berikut:
1.   Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran. Materi pelajarantidak dibatasi oleh jam pelajaran, melainkan dapat dilanjutkansepanjang hari, mencakup berbagai mata pelajaran.
2.   Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami.
3.   Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yangkontinyu, tidak terbatas pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkanempat dinding kelas. Guru dapat membantu siswa memperluaskesempatan belajar ke berbagai aspek kehidupan.
4.   Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut pandang.
5.   Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan padakompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerja sama dankolaborasi.
Adapun keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut:
1.   Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
2.   Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
3.   Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkandengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untukmembuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab padakeberhasilan belajar.
4.   Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.
5.   Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.
B.   Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi
Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan BadanStandar Nasional Pendidikan, dijelaskan bahwa untuk kelas I, II, dan III SD pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Matapelajaran yang harus dicakup adalah :
1.   Pendidikan agama,
2.   Pendidikan kewarganegaraan,
3.   Bahasa Indonesia,
4.   Matematika,
5.   Ilmu pengetahuan alam,
6.   Ilmu pengetahuna sosial,
7.   Seni budaya dan keterampilan, dan
8.   Pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan.
Dalam pembelajaran tematik, standar kompetensi dan kompetensi dasaryang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karenasifatnya masih minimal. Sesuai dengan petunjuk pengembangankurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), standar itu dapatdiperkaya dengan muatan lokal atau ciri khas satuan pendidikan yangbersangkutan.
C.  Tinjauan Tentang Pelajaran IPA
Carin (1985) mendefinisikan IPA sebagai sistem pengetahuan alam semestamelalui pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi daneksperimen. Sementara itu Hungerford dan Volk (1990) mendefinisikan IPAsebagai, (1) proses menguji informasi yang diperoleh melalui metodeempiris, (2) informasi yang diberikan oleh suatu proses yang menggunakanpelatihan yang dirancang secara logis, dan (3) kombinasi antara prosesberfikir kritis yang menghasilkan produk informasi yang sahih.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakansuatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam bentukkumpulan konsep, prinsip, teori dan hukum. IPA dapat dipandang sebagaiproduk yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui metodeilmiah, dan dapat juga dipandang sebagai proses yaitu sebagai pola berfikiratau metode berfikirnya. Sedangkan sikap yang dibutuhkan dalam metodeilmiah berupa sikap ilmiah yang antara lain berupa hasrat ingin tahu,kerendahan hati, jujur, objektif, cermat, kritis, tekun, terbuka, dan penuhtanggung jawab.
D.  Tinjauan Tentang Siswa
Menurut Yaumil Achir, dalam Reni Akbar-Hawadi (2001 : 39), menguraikanbahwa fokus perkembangan anak pada usia 5-7 tahun ada pada duniaakademis dan intelektual. Untuk periode ini, yang menonjol adalahbanyaknya kata-kata, gagasan-gagasan, konsep-konsep yang merupakanrepresentasi dari hal-hal yang telah dialami dan disimpan secara mental,baik melalui pengalaman atau yang diterima secara tidak langsung.
Menurut Syaiful bahri Djamarah (2005:51), anak didik adalah setiap orangyang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yangmenjalankan kegiatan pendidikan.
Menurut Sutari Imam Barnadib, dkk (dalam Syaiful bahri Djamarah,
(2005:52), bahwa anak didik mempunyai karakteristik tertentu, takni :
1.   Belum mempunyai pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru),
2.   Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya,
3.   Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secaraterpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi,kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja, latar belakangsosial, latar belakang biologis serta perbedaan individual.
E.   Kerangka Berfikir

Gambar 1. Bagan Kerangka Berfikir
Berdasarkan gambar 1 tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, dalamproses pembelajaran tematik pada mata pelajaran IPA guru memberikansebuah tema. Seperti contoh diatas, tema yang disampaikan adalah tentangbinatang. Berdasarkan tema tersebut guru mengaitkannya dengan beberapamata pelajaran lainnya, seperti bahasa indonesia, matematika, pendidikanagama dan kerajinan tangan dan kesenian, atau dapat juga dihubungkandengan mata pelajaran yang lainnya. Dengan melakukan hal tersebut,diharapkan siswa dapat berpikir secara divergen. Siswa dapat melatihkemampuan berpikirnya, berpikir kritis, melatih keterampilan dankreativitasnya. Sehingga dapat menambah pengetahuan siswa, dalam waktuyang bersamaan siswa dapat belajar beberapa mata pelajaran sekaligus, yangdiharapkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
F.    Hipotesis Tindakan
Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah model PenelitianTindakan Kelas Kolaboratif, dimana peneliti melakukan observasi dalamkegiatan pembelajaran guru dan siswa di kelas.
Menurut Kasihani Kasbolah (1998:13), penelitian tindakan kelas merupakansalah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yangdilakukan untuk memperbaiki dan dan atau meningkatkan mutupembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yanglangsung berhubungan dengan tugas guru di lapangan. Artinya, penelitiantindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas danbertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada.
Menurut Suharsimi Arikunto, dkk, (2007:3),bahwa penelitian tindakankelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupasebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelassecara bersama-sama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau denganarahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
Berdasarkan beberapa definisi oleh para pakar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian tindakan kelas adalah segala daya upaya yang dilakukan oleh guru berupa kegiatan penelitian tindakan atau arahandengan tujuan dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitaspembelajaran.
B.   Desain Penelitian
Menurut S. Nasution (2006:23), desain penelitian merupakan rencanatentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat dilaksanakansecara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu.
Model penelitian pada penelitian ini merujuk pada proses pelaksanaanpenelitian yang dikemukakan oleh Kemmis & Taggart, Suharsimi Arikunto(2007:16-19), yang meliputi menyusun rancangan tindakan (planning),pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi(reflecting).
Kegiatannya divisualisasikan pada gambar dibawah ini.
Gambar 2. Proses penelitian tindakan
Keterangan :
1.   Perencanaan
2.   Tindakan dan observasi I
3.   Refleksi I
4.   Rencana revisi
5.   Tindakan dan observasi II
6.   Refleksi II
C.   Pengembangan dan Pengkajian Instrumen Tindakan
1.Putaran pertama atau siklus I
a.   Perencanaan
Sebelum melaksanakan model pembelajaran tematik direncanakan beberapa kegiatan, yaitu :
1)   Pembuatan persiapan pembelajaran tematik pelajaran IPA kelas II SD.
2)   Observasi
Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal tentang pembelajaran tematik.
3)   Identifikasi permasalahan dalam pembelajaran tematik
Kegiatan ini dilakukan agar mengetahui permasalahan apa yangakan dihadapi oleh siswa dan dapat menentukan caramenyelesaikan masalah tersebut.
4)   Menentukan cara atau metode dalam melaksanakan pembelajaran tematik.
5)   Menyusun rencana penelitian
Pada tahap ini peneliti menyusun serangkaian kegiatan secara menyeluruh berupa siklus tindakan kelas.
b.   Tindakan dan observasi I
1) Kegiatan awal
Pretes : Guru bertanya kepada siswa, pertanyaannya adalah sebutkan tiga jenis makhluk hidup yang hidup dibumi.
2)   Kegiatan inti
a)   Guru menampilkan gambar-gambar binatang, binatang tersebut adalah kuda, sapi, badak, kambing, dan rusa.
b)   Siswa menyebutkan nama-nama binatang tersebut.
c)   Siswa menghitung jumlah binatang yang ada pada gambar.
d)   Siswa mewarnai gambar binatang yang telah disiapkan oleh guru.
e)   Guru menampilkan sebuah puisi yang berjudul kuda.
f)    Guru memberikan contoh cara membaca puisi dengan intonasi yang tepat.
g)   Siswa membaca puisi secara bersama-sama.
h)   Beberapa orang siswa maju untuk membacakan puisi tesebut dengan gaya masing masing.
i)    Guru memberikan penjelasan bahwa sebagai sesame makhluk ciptaan Tuhan, kita sebagai manusia harus selalumenyayangi semua ciptaannya. Salah satunya adalahmenyayangi binatang.
3)   Kegiatan akhir
Pemberian postes
Siswa diberi tugas untuk menuliskan lima ekor binatang peliharaan yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
c. Refleksi I
Dalam kegiatan refleksi ini, peneliti melakukan diskusi dengan guruuntuk melihat kendala yang dialami siswa dalam pembelajarantesebut, dan mencari solusi bagaimana cara yang tepat untukmengatasi kendala tersebut. Yang terpenting, dalam refleksi inipeneliti melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan,apakah telah sesuai dengan rancangan skenario yang telah dibuat.Jika ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan maka perluadanya rancangan ulang berupa perbaikian, modifikiasi dan atau jikadirasakan sangat perlu, maka akan disusun skenario baru untukmelakukan siklus berikutnya.
2.Putaran kedua atau siklus II
Putaran kedua atau siklus II dilakukan apabila apa yang dilakukan padaputaran pertama belum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, apabilabelum juga berhasil maka akan dilanjutkan dengan putaran berikutnya.
D. Subjek penelitian
Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas II SD
Negeri Tambahmulyo 01 , Kabupaten Umbulharjo Yogyakarta
E.Setting Penelitian
Setting penelitian ini adalah lingkungan kelas tempat subjek melakukan
kegiatan pembelajaran.
F .Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Metode observasi
Metode observasi yaitu kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatuobjek dengan menggunakan seluruh alat indera. Dalam penelitian inimenggunakan observasi sistematis, yaitu observasi yang dilakukandengan menggunakan pedoman sebagai instrument pengamatan.
2. Metode wawancara
Metode wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan olehpewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Dalampenelitian ini wawancara yang dilakukan adalah adalah wawancarabebas terpimpin, yaitu kombinasi dari wawancara bebas dan terpimpin.Dalam melakukan wawancara., pewawancara membawa pedoman yangmerupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.
G.Instrument Penelitian
Menurut Suharsismi Arikunto (1998:151), instrument penelitian adalah alatatau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agarpekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam artian lebihcermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.
Dalam penelitian ini digunakan instrument penelitian berupa pedoman
observasi dan pedoman wawancara.
1. Pedoman observasi
Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkintimbul dan akan diamati. Pedoman observasi dibuat peneliti dengandikonsultasikan kepada dosen pembimbing.
2. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara dalam penelitian ini menggunakan wawancarasemi struktur, yaitu mula-mula interview menggunakan sederetanpertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian dari pertanyaan-pertanyaantersebut satu persatu diperdalam guna mengorek keterangan lebih lanjut.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitiann ini dilakukan dengan cara induktif.Menurut Noeng Muhadjir (1992), analisis induktif adalah mengenali dataspesifik dari lapangan menjadi unit-unit kemudian dilanjutkan dengankategorisasi. Kategorisasi maksudnya adalah data relevan atau bermaknayang telah dipilih seta disusun dalam satu kesatuan tersebutdifokuskan/ditonjolkan pada hal-hal yang penting sehingga dapatmemerikan gambaran tajam tentang hasil observasi dan wawancara.
Dalam penelitian ini kegiatan analisis dilakukan dengan cara mengelompokkan data yang diperolah dari guru kelas dan guru bidang studi.

DAFTAR PUSTAKA
http://elmuttaqie.wordpress.com/2008/11/18/pengertian-dan-hakekat-
pembelajaran/
http://ktiguru.blogspot.com/2008/07/pembelajaran-tematik.html
http://mgmpips.wordpress.com/2008/04/09/implikasi-pembelajaran-tematik/
http://mgmpips.wordpress.com/2008/04/07/arti-penting-pembelajaran-tematik/
http://re-searchengines.com/rustanti30708.html
http://smamda.sch.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=26&
temid=9
http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/04/model-pembelajaran-tematik-kelebihan-
dan-kelemahannya/
http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=323
Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Metode Eksperimen, Pembelajaran Unit dan Pembelajaran dengan Modul

Metode Eksperimen, Pembelajaran Unit dan Pembelajaran dengan Modul

1.  Metode Eksperimen
a.  Pengertian
Sagala  (2006),  Sumantri  dan  Permana  (1998/1999)  menyatakan  bahwa
eksperimen  adalah  percobaan  untuk  membuktikan  suatu  pertanyaan  atau
hipotesis  tertentu. Eksperimen dapat dilakukan pada suatu  laboratorium atau
diluar  laboratorium.  Sedangkan  metode  eksperimen  dalam  pembelajaran
adalah cara penyajian bahan pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan
percobaan untuk membuktikan  sendiri  suatu pertanyaan  atau hipotesis  yang
dipelajari.
Dalam  proses  pembelajaran  dengan  metode  eksperimen  siswa  diberi
kesempatan  untuk  mengalami  sendiri  atau  melakukan  sendiri,  mengikuti
proses,  mengamati  suatu  obyek,  menganalisis,  membuktikan  dan  menarik
kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan atau proses tertentu. Peranan
guru dalam metode eksperimen adalah memberi bimbingan agar eksperimen
itu dilakukan dengan teliti sehingga tidak terjadi kekeliruan atau kesalahan.
b.  Tujuan
Apa tujuan metode eksperimen ? Metode eksperimen bertujuan agar :
1)  Siswa  mampu  menyimpulkan  fakta-fakta,  informasi  atau  data  yang
diperoleh.
2)  Siswa  mampu  merancang,  mempersiapkan,  melaksanakan  dan
melaporkan percobaannya.
3)  Siswa  mampu  menggunakan  logika  berpikir  induktif  untuk  menarik
kesimpulan  dari  fakta,  informasi  atau  data  yang  dikumpulkan  melalui
percobaan.
4)  Siswa mampu berpikir sistematis, disiplin tinggi, hidup teratur dan rapi.
c.  Alasan Penggunaan Metode Eksperimen
Apa  alasan  guru  menggunakan  metode  eksperimen  ?  Beberapa  alasan
penggunaan metode eksperimen adalah :
1)  Dapat menumbuhkan cara berpikir rasional dan ilmiah.  2)  Dapat memungkinkan siswa belajar secara aktif dan mandiri.
3)  Dapat  mengembangkan  sikap  dan  perilaku  kritis,  tidak  mudah  percaya
sebelum   ada bukti-bukti nyata.
d.  Kekuatan dan Kelemahan Metode Eksperimen
1)  Kekuatan Metode Eksperimen
a)  Membuat  siswa  percaya  pada  kebenaran  kesimpulan  percobaannya
sendiri daripada  menurut cerita orang atau buku.
b)  Siswa aktif mengumpulkan fakta, informasi atau data yang diperlukan
melalui percobaan yang dilakukannya.
c)  Dapat  digunakan  untuk  melaksanakan  prosedur  metode  ilmiah  dan
berpikir ilmiah.
d)  Hasil  belajar  dikuasai  siswa  dengan  baik  dan  tahan  lama  dalam
ingatan.
e)  Menghilangkan verbalisme.
2)  Kelemahan Metode Eksperimen
a)  Memerlukan  peralatan  dan  bahan  percobaan  yang  lengkap  serta
umumnya mahal.
b)  Dapat  menghambat  lajunya  pembelajaran  sebab  eksperimen
umumnya memerlukan waktu lama.
c)  Kesalahan  dalam  eksperimen  akan  berakibat  pada  kesalahan
kesimpulannya.
d)  Belum tentu semua guru dan siswa menguasai metode eksperimen.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Eksperimen
  Bagaimana  cara  menguasai  kelemahan  metode  eksperimen  ?  Ada
beberapa cara untuk mengatasi kelemahan metode eksperimen.
1)  Guru harus menjelaskan secara gamblang hasil yang ingin dicapai dengan
eksperimen.
2)  Guru  harus menjelaskan  prosedur  eksperimen,  bahan-bahan  eksperimen
yang  diperlukan,  peralatan  yang  diperlukan  dan  cara  penggunaannya,
variabel  yang  perlu  dikontrol,  dan  hal  yang  perlu  dicatat  selama
eksperimen.
3)  Mengawasi  pelaksanaan  eksperimen  dan  memberi  bantuan  jika  siswa
mengalami kesulitan.
4)  Meminta  setiap  siswa  melaporkan  proses  dan  hasil  eksperimennya,
membanding-bandingkannya  dan  mendiskusikannya,  untuk  mengetahui
kekurangan dan kekeliruan yang mungkin terjadi.   f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran dengan Metode Eksperimen

  Apa saja langkah-langkah pembelajaran dengan metode eksperimen ?
Langkah-langkah pembelajaran dengan metode eksperimen tersebut meliputi:
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Merumuskan  tujuan pembelajaran yang  ingin dicapai dengan metode
eksperimen.
b)  Menyiapkan materi pembelajaran yang diajarkan melalui eksperimen.
c)  Menyiapkan  alat,  sarana    dan  bahan  yang  diperlukan  dalam
eksperimen.
d)  Menyiapkan  panduan  prosedur  pelaksanaan  eksperimen,  termasuk
Lembar Kerja Siswa (LKS).
2)  Kegiatan Pelaksanaan Eksperimen
a)  Kegiatan Pembukaan
  Menanyakan  materi  pelajaran  yang  telah  diajarkan  minggu  lalu
(opersepsi).
  Memotivasi  siswa  dengan mengemukakan  ceritera  anekdot  yang
ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
  Mengemukakan  tujuan  pembelajaran  yang  ingin  dicapai,  dan
prosedur eksperimen yang akan dilakukan.
b)  Kegiatan Inti
  Siswa  diminta membantu menyiapkan  alat  dan  bahan  yang  akan
dipakai dalam eksperimen.
  Siswa melaksanakan  eksperimen  berdasarkan  panduan  dan  LKS
yang telah disiapkan guru.
  Guru memonitor dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
  Pelaporan hasil eksperimen dan diskusi balikan.  
c)  Kegiatan Penutup
  Guru meminta siswa untuk merangkum hasil eksperimen.
  Guru mengadakan evaluasi hasil dan proses eksperimen.
  Tindak lanjut, yaitu meminta siswa yang belum menguasai materi
eksperimen untuk mengulang  lagi  eksperimennya, dan bagi  yang
sudah menguasai diberi tugas untuk pendalaman.
 2.  Metode Pembelajaran Unit
a.  Pengertian
Taredja, dkk.  (1980), dan Sumantri dan Permana  (2006) menyatakan bahwa
metode  pengajaran  unit  adalah  suatu  cara  pembelajaran  dimana  siswa  dan
guru mengarahkan  segala kegiatannya pada pemecahan  suatu masalah  yang
dipelajari melalui berbagai  segi yang berhubungan,  sehingga pemecahannya
secara  keseluruhan  dan  bermakna.  Pengajaran  unit  ini  sekarang  dinamakan
pembelajaran terpadu.
Menurut  Sumantri  dan  Permana  (1998/1999)  terdapat  beberapa  jenis
keterpaduan  dalam  pembelajaran  terpadu  :  (1) Keterpaduan  antara  dua  atau
lebih  masalah,  konsep,  keterampilan,  tugas,  atau  ide-ide  lain  dalam  satu
bidang  studi,  (2) Keterpaduan beberapa  topik atau  sub  tema dalam berbagai
bidang  studi  (model  jaring  laba-laba/webbed  model)  dan  (3)  lintas  bidang
studi  yaitu  pemecahan masalah  yang melibatkan  adanya  prioritas  kurikuler
dan  menemukan  pengetahuan  atau  konsep,  keterampilan  dan  sikap  yang
tumpang tindih dari beberapa bidang studi.    
b.  Tujuan
Sumantri  dan  Permana  (1998/1999)  mengemukakan  tujuan  metode
pembelajaran unit sebagai berikut :
1)  Melatih  siswa  berpikir  komprehensif  dengan  cara  mengkaji  dan
memecahkan masalah dari berbagai disiplin ilmu atau aspek.
2)  Melatih  siswa  menggunakan  keterampilan  proses  atau  metode  ilmiah
dalam pemecahan masalah.
3)  Membentuk  sikap  kritis,  kerjasama,  rasa  ingin  tahu, menghargai  waktu
dan menghargai pendapat orang lain.
4)  Melatih  siswa  agar  memiliki  kemampuan  merencanakan,
mengorganisasikan dan memimpin suatu kegiatan.
5)  Mengembangkan keterampilan berkomunikasi. c.  Alasan menggunakan Metode Pembelajaran Unit
Sumantri dan Permana  (1998/1999) memberi alasan mengapa guru memilih
menggunakan metode pembelajaran unit sebagai berikut :
1)  Dalam kurikulum terdapat keterkaitan antara satu topik dengan topik lain,
atau  antara  bidang  studi  satu  dengan  bidang  studi  lainnya  dalam  suatu
pemecahan  masalah,  sehingga  perlu  ada  satu  metode  yang  dapat
menciptakan kesatuannya.
2)  Dapat memberikan pengalaman belajar  tentang pemecahan masalah dari
berbagai disiplin ilmu.
3)  Dapat melibatkan peserta didik secara fisik maupun psikis dalam kegiatan
pembelajaran.
d.  Kekuatan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Unit
1)  Kekuatan Metode Pembelajaran Unit
Taredja, dkk. (1980) mengemukakan kekuatan metode pembelajaran unit
sebagai berikut :
a)  Siswa dapat belajar  secara keseluruhan  (utuh). Semua  atau beberapa
mata pelajaran dipadu jadi satu dalam satu masalah. Dengan demikian
ilmu-ilmu yang ada dihayati secara utuh.
b)  Pelajaran  menjadi  lebih  berarti.  Kalau  pada  pelajaran  tradisional
semua siswa harus melakukan apa yang diajarkan seperti apa adanya,
maka dalam pembelajaran  terpadu,  siswa belajar  sesuai minat, bakat
dan  tingkat  perkembangannya.  Karena  itu  siswa  belajar  lebih
bemakna.
c)  Situasi  kelas  lebih  demokratis. Hal  ini  dimungkinkan  karena  prinsip
dari pembelajaran  terpadu adalah perencanaan bersama, dilaksanakan
oleh  siswa,  guru  hanya  sebagai  pembimbing.  Karena  itu  suasana
belajar menjadi lebih demokratis.
d)  Digunakannya  asas-asas  didaktik  secara  lebih  wajar.  Asas-asas
didaktik  seperti  peragaan,  minat,  kerja  kelompok,  kerjasama,  kerja
sendiri, dan sebagainya benar-benar dimanfaatkan.
e)  Digunakannya prinsip-prinsip psikologi belajar modern, seperti minat
anak berhubungan pengalamannya, anak mempersepsi lingkungannya
secara  keseluruhan  tidak  terpisah-pisah,  anak  yang  sehat  selalu  aktif
bergerak  melakukan  sesuatu,  dan  siswa  SD  perkembangan
kognitifnya  masih  ada  pada  phase  operasional  konkrit.  Dalam
pembelajaran terpadu ini semua diakomodasikan.
 2)  Kelemahan Metode Pembelajaran Unit
Taredja,  dkk.  (1980)  mengemukakan  kelemahan  metode  pembelajaran
unit, antara lain :
a)  Memilih  pokok  masalah  yang  akan  dijadikan  unit  bukan  suatu
pekerjaan yang mudah.
b)  Melaksanakan  pembelajaran  unit  menuntut  kecakapan  tersendiri,
sedangkan guru belum semuanya mampu menyelenggarakannya.
c)  Memerlukan ketekunan, pekerjaan dan waktu yang lebih banyak.
d)  Karena  melibatkan  banyak  siswa  maka  dimungkinkan  memerlukan
biaya yang lebih banyak.  
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pembelajaran Unit
1)  Kesulitan  dalam  memilih  pokok  masalah  dapat  diatasi  dengan  cara
membentuk  tim  atau  panitia. Melalui  rapat  tim  atau  panitia  yang  terdiri
dari  beberapa  guru  dapat  dirumuskan masalah  yang  hangat  dan  relevan
dengan kurikulum dan tingkat perkembangan siswa.
2)  Kesulitan guru karena dalam pembelajaran unit diperlukan banyak waktu
energi  dan  biaya,  maka  pembelajaran  unit  dapat  dicarikan  waktu  yang
luang dan dilaksanakan  secara block waktu  (tak ada kegiatan  lain  selain
pembelajaran  unit).  Masalah  biaya  dapat  diatasi  dengan  memasukkan
biaya pembelajaran unit ke DUK sekolah atau sumber lain yang halal.
3)  Masalah  kedangkalan  pelajaran  dapat  diatasi  dengan  perencanaan  yang
matang jangan asal-asalan saja.

f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Pembelajaran Unit
Bagaimana  cara melaksanakan pembelajaran dengan metode unit ? Taredja,
dkk  (1980)  mengemukakan  langkah-langkah  pembelajaran  dengan  metode
pembelajaran unit sebagai berikut :
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Menjelaskan  kepada  siswa  tentang  bagaimana  cara  melaksanakan
pembelajaran dengan metode unit.
b)  Guru bersama siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan
unit.  Pokok  masalah  itu  hendaknya  sesuai  dengan  minat  dan  latar
belakang  siswa,  sesuai  dengan  kurikulum  dan  kebutuhan  siswa,  dan
sesuai  dengan  ketersediaan  sumber  baik  buku,  para  ahli  maupun
instansi. c)  Guru  dan  siswa  menetapkan  aspek-aspek  pokok  masalah  dan  mata
pelajaran-  mata  pelajaran  yang  ikut  serta  pada  pemecahan  pokok
masalah tersebut.
d)  Guru  bersama  siswa menetapkan  tujuan  instruksional  khusus  (TIK)
untuk setiap aspek masalah.
e)  Guru  dan  siswa  menetapkan  kelompok-kelompok  kerja  dan  tugas-
tugasnya. Biasanya  jumlah kelompok disesuaikan dengan banyaknya
aspek masalah/unit.
f)  Guru  dan  siswa  menetapkan  organisasi  kelas  :  ketua,  wakil  ketua,
sekretaris, bendahara, seksi-seksi, dan sebagainya. Organisasi ini yang
akan mengelola penyelesaian kegiatan unit.
g)  Guru dan siswa menetapkan jadwal kegiatan, sasaran, target, dan tata
tertib yang harus dipatuhi selama pembelajaran unit ini.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan Persiapan
  Guru menanyakan materi pelajaran sebelumnya.
  Guru berceritera  tentang kehidupan di masyarakat yang berkaitan
dengan  materi  pelajaran  yang  akan  diajarkan  melalui
pembelajaran unit.
  Guru mengingatkan kembali  tentang TIK  yang  telah dirumuskan
dan bagaimana penyelesaiannya oleh kelompok.
b)  Kegiatan Inti
  Para  siswa  mengatur  tempat  mereka  belajar  /  bekerja,  apakah
tempat belajar itu di dalam kelas maupun di luar kelas.
  Mempelajari  sesuatu  sesuai  dengan  tugas  masing-masing,
misalnya  :  melakukan  percobaan-percobaan,  mengerjakan  soal-
soal, menggambar, mempelajari  nyanyian, mengunjungi  tempat-
tempat  yang  telah  direncanakan,  mengikuti  ceramah  dari  nara
sumber, dan sebagainya
  Dalam  rangka  penyelesaian  tugas,  siswa  mengadakan  diskusi,
mengatur bahan, dan berkoordinasi dengan kelompok lain.
  Menyiapkan  laporan  kelompok  untuk  disajikan  pada  laporan
kelompok sewaktu diadakan pleno.
  Laporan kelompok yaitu laporan lisan dan tertulis yang dilakukan
oleh  setiap kelompok dalam  sidang pleno,  sehingga  semua  siswa
dapat belajar dari kelompok lain.   Pameran.  Setelah  laporan  kelompok  selesai,  kegiatan  berikutnya
adalah melakukan pameran. Yang dipamerkan adalah semua yang
telah dihasilkan oleh kelompok. Pameran dapat berbentuk :
─  Statis,  yaitu  pameran  tentang  karya  belajar  yang  berwujud
laporan tertulis/paper, gambar-gambar, hasil pekerjaan tangan,
hasil memasak, grafik, bagan, dan sebagainya.
─  Dinamis,  yaitu  pameran  tentang  hasil  belajar  yang  berupa
pementasan  sandiwara, pembacaan puisi, pagelaran  seni  (tari,
nyanyi, dan sebagainya), pidato dan sebagainya.
Dalam  pameran  ini  dapat  diundang  siswa  dari  sekolah  lain,
instansi  lain  yang  berkaitan  dengan  pendidikan,  dan  terutama
adalah orang tua siswa.
c)  Kegiatan Penutup
  Guru  meminta  siswa  merangkum  hasil  belajar  melalui  kegiatan
dalam metode pembelajaran unit.
  Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pelaksanaan
pembelajaran melalui metode pembelajaran unit.
  Tindak  lanjut,  yaitu menjelaskan  kembali materi  pelajaran  yang
belum  dikuasai  siswa  dan  menugasi  untuk  memperdalam
penguasaan materi pelajaran melalui Penugasan Rumah (PR). 3.  Metode Pengajaran dengan Modul
a.  Pengertian
Russel  (dalam Mainuddin  dan  Gunawan,  1980)  menyatakan  bahwa  modul
adalah  suatu  paket  pembelajaran  yang  membicarakan  satu  satuan  konsep
tunggal mata  pelajaran.  Hal  ini  dalam  usaha  untuk mengindividualisasikan
belajar dengan memberi kemampuan  siswa menguasai  satu unit  isi  sebelum
pindah ke unit yang lain. Metode  pembelajaran  dengan  modul  merupakan  salah  satu  bentuk  dari
bentuk-bentuk  belajar  mandiri.  Sagala  (2006)  mengemukakan  ada  empat
bentuk  belajar  mandiri  yaitu  :  (1)  self  instruction  semacam  modul,  (2)
independent  study,  (3)  individualized  prescribed  instruction,  dan  (4)  self
package learning.
Russel  (dalam  Mainuddin  dan  Gunawan,  1980)  mengemukakan  8
karakteristik umum modul, yaitu :
1)  Self  contained,  atau  self  instructional  packages. Modul  itu  merupakan
satuan paket bahan pelajaran yang lengkap untuk belajar sendiri.
2)  Memperhitungkan  perbedaan  individu.  Siswa  bebas menentukan  sendiri
proses belajarnya.
3)  Tujuan  pembelajaran  dirumuskan  secara  eksplisit  dan  spesifik  dalam
perumusan tingkah laku yang bisa diukur.
4)  Adanya  asosiasi,  struktur  dan  urutan  yang  disajikan.  Ide-ide  dasar
disajikan lebih dulu.
5)  Pemakaian bermacam-macam media.
6)  Partisipasi aktif siswa. Siswa belajar sendiri dari modul.
7)  Reinforcement  langsung.  Dalam  modul,  reinforcement  segera  didapat
setelah siswa menunjukkan respon yang disetujui.
Komponen modul yang pernah dikembangkan oleh Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan  (PPSP)  meliputi  :  petunjuk  guru,  lembar  kegiatan  siswa,
lembar kerja siswa, kunci  jawaban untuk  lembar kerja,  lembar penilaian/tes,
dan kunci jawaban untuk lembar tes.
b.  Tujuan
Metode pembelajaran dengan modul bertujuan :
1)  Agar siswa aktif belajar secara mandiri.
2)  Agar  siswa  terbiasa mengontrol  kecepatan  dan mengevaluasi  belajarnya
sendiri.
3)  Memberi  reinforcement  secepatnya  setelah  siswa  selesai  mengerjakan
materi  modul  dengan  memperbolehkan  pindah  ke  modul  berikutnya.
Penguatan  ini  memotivasi  siswa  untuk  mengulang  kembali  perbuatan
belajarnya yang baik itu.
4)  Melatih  disiplin,  taat  peraturan  dan  petunjuk  yang  ada,  serta  melatih
kebiasaan mengoreksi diri sendiri dan kejujuran.
 c.  Alasan Penggunaan Metode Pembelajaran dengan Modul
Mengapa  guru memilih metode  pembelajaran  dengan modul  ? Alasan  guru
adalah :
1)  Siswa dapat belajar lebih aktif dan mandiri (CBSA)
2)  Siswa dapat menyesuaikan diri dengan keunikan cara belajarnya masing-
masing.
3)  Siswa  dapat  berkembang  secara  optimal  sesuai  dengan  perbedaan
kemampuan, potensi dan kecepatan belajar masing-masing.
4)  Dimungkinkan untuk mendukung modul digunakan multi media, seperti ;
audio  visual,  internet,  web,  dan  sebagainya  sehingga  perbedaan-
perbedaan dan keunikan individu dapat diakomodasi.
5)  Dengan metode  pembelajaran  dengan modul mutu  proses  pembelajaran
dapat ditingkatkan.
6)  Dapat  mengatasi  kekurangan  guru,  dan  mengatasi  persoalan  jauhnya
tempat tinggal siswa dari kampus.
d.  Kekuatan dan Kelemahan Metode Pembelajaran dengan Modul
1)  Kekuatan Metode Pembelajaran dengan Modul
a)  Ratio  guru  dan  siswa  dapat  ditingkatkan  menjadi  sekitar  1  :  200,
padahal dengan sistem biasa ratio tersebut adalah 1 : 40
b)  Siswa aktif belajar secara mandiri.
c)  Meningkatkan  kualitas  hasil  belajar,  karena  siswa  yang  belum
mencapai mastery  learning 80% harus mengkaji ulang materi modul
dan tes.
d)  Siswa  termotivasi  untuk  belajar  dengan  sungguh-sungguh  untuk
segera menyelesaikan modul yang ditargetkan.
2)  Kelemahan Metode Pembelajaran dengan Modul
a)  Ikatan  kelas  renggang,  belajar  bersama  berkurang,  padahal motivasi
belajar dipengaruhi pula oleh kebersamaan.
b)  Aspek estetis dan etis kurang diperhatikan.
c)  Kesulitan dalam menulis modul. Modul yang baik menuntut keahlian,
keterampilan dan pengalaman.
d)  Pembelajaran dengan modul umumnya kurang memperhatikan aspek
perasaan.  Manusia  dianggap  sebagai  mesin  yang  reaktif  terhadap
stimulus (modul) yang disajikan padanya.
e)  Cenderung untuk memuat materi yang banyak dalam modul, sehingga
memberatkan siswa. f)  Modul menuntut  siswa  pintar membaca  dengan  pemahaman,  hal  ini
menjadi hambatan bagi siswa yang kurang trampil membaca.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pembelajaran dengan Modul
1)  Perlu  dibuat modul  yang  penguasaannya  dilakukan melalui  diskusi  atau
kerja kelompok.
2)  Modul  harus  disusun  oleh  orang  yang  selain  ahli  dibidang mata  kuliah
juga berpengalaman dalam menulis modul.
3)  Materi  harus  disusun  berdasarkan  kompetensi  yang  ingin  dicapai  yang
telah dirumuskan dalam silabus mata kuliah.
4)  Bahasa yang digunakan hendaknya bahasa baku, yaitu Bahasa  Indonesia
yang  baik  dan  benar.  Disamping  itu  tingkat  kesukaran  bahasa  perlu
disesuaikan dengan umur dan pengetahuan siswa.
f.  Langkah-langkah Pembelajaran dengan Modul
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Guru menyiapkan modul yang akan dipelajari oleh siswa dan berbagai
media pendukungnya. Untuk  ini guru harus mempunyai  arsip nomor
atau judul modul yang telah diselesaikan siswa.
b)  Guru membaca modul  yang  akan  diajarkan  agar  isi modul  dikuasai
sehingga  kalau  nanti  ada  siswa  bertanya  dapat memberi  penjelasan.
Disamping itu guru juga perlu menyiapkan pertanyaan apersepsi.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan Pembukaan
  Guru  menanyakan  isi  materi  modul  yang  telah  diselesaikan
(apersepsi).
  Guru memotivasi siswa dengan pertanyaan-pertanyaan atau cerita
anekdot yang berkaitan dengan materi modul yang akan dipelajari.
  Karena  tujuan  pembelajaran  telah  ditulis  dalam  modul,  maka
dalam  acuan  ini  guru  cukup memberi  petunjuk  untuk membaca
tujuan  pembelajaran  yang  ada  dalam modul,  begitu  pula  halnya
dengan petunjuk cara pengerjaan modul.
b)  Kegiatan Inti
  Guru meminta siswa menyiapkan dan mempelajari modul.
  Guru mengawasi kegiatan belajar siswa.
  Guru  sebagai  fasilitator membantu  siswa memecahkan  kesulitan
belajar, pengarah diskusi (jika diperlukan), dan sebagainya.   Menentukan  langkah  selanjutnya  setelah  siswa  menyelesaikan
modulnya, misalnya memberi modul  pengayaan  bagi  siswa  yang
telah  mencapai  belajar  tuntas  80%,  dan  meminta  siswa
mempelajari lagi modul jika hasil tes formatif kurang dari 80%.
c)  Kegiatan Penutup
  Memberi  kesempatan  siswa  membuat  rangkuman  pokok-pokok
materi yang dipelajari dari modul.
  Evaluasi  telah dilaksanakan  sewaktu mempelajari modul. Karena
itu guru tidak melakukan evaluasi lagi.
  Tindak  lanjut,  berupa  PR  baik mengerjakan  soal-soal  dari  buku
yang ada ataupun membuat rangkuman dari buku yang dibacanya.