Senin, 09 Februari 2015
Rabu, 08 Januari 2014
VISI, MISI, TUJUAN, DAN LOGO SD NEGERI TAMBAHMULYO 01 KECAMATAN JAKENAN KABUPATEN PATI
Sejalan dengan perkembangan kurikulum dan
program sekolah, maka diperlukan pembaruan konsep pengelolaan sekolah untuk
menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu, perlu
disosialisasikan mengenai perubahan visi, misi, tujuan dan logo SD Negeri Tambahmulyo
01 sebagai berikut:
A.
Visi Sekolah
Unggul Dalam Prestasi dan Ketrampilan
Berdasarkan Iman dan Taqwa
B.
Misi Sekolah
Misi yang diemban
oleh SD Negeri Tambahmulyo 01 dalah sebagai berikut.
- Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, bagi siswa sesuai potensi masing – masing
- Menumbuhkan semangat keunggulan kepada seluruh warga sekolah
- Mendorong dan membantu setiap suswa untuk memngenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal
- Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearipan dalam bertindak
- menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pihak terkait
C.
Tujuan Sekolah
Tujuan yang ingin
dicapai SD Negeri Tambahmulyo 01 adalah sebagai berikut:
- Dapat mengembangkan dasar-dasar berbudi pekerti luhur sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa.
- Dapat menerapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, yang mengembangkan kecerdasan intelektual, sosial, dan emosional.
- Dapat membudayakan sikap santun pada seluruh warga sekolah.
- Dapat mengantarkan lulusan untuk mampu bersaing di jenjang sekolah yang lebih tinggi.
- Dapat mengembangkan sekolah kondusif sebagai sumber belajar yang sehat dan berbudaya lingkungan.
D.
Moto Sekolah
Motto SD Negeri Tambahmulyo
01 adalah ”SANTUN DALAM PEKERTI, UNGGUL DALAM PRESTASI”.
E.
Logo dan Arti Logo Sekolah
1. Bentuk
Segilima berbentuk bunga
Memiliki Bentuk Segilima berbentuk bunga arti lambang keadilan dan
kemakmuran yang dicita-citakan demi
kejayaan dan kesinambungan, serta diartikan bahwa siswa mempunyai potensi tidak
terbatas yang harus dijayakan.
2. Warna
Dasar Biru Tua
Warna Biru, arti warna Biru adalah warna yang aman untuk
digunakan. Hal ini terkait dengan kepercayaan, kejujuran
dan ketergantungan, sehingga membantu untuk membangun loyalitas
pelanggan. Biru juga menunjukkan kepercayaan diri, kehandalan
dan tanggung jawab. Hal ini terkait dengan komunikasi personal
daripada komunikasi massa. Ini menginspirasi kebijaksanaan dan cita-cita yang
lebih tinggi, tetapi juga konservatif dan dapat diprediksi.
Secara
psikologis warna biru
menenangkan, mengurangi ketegangan dan ketakutan. Ini memperlambat denyut nadi
dan mengurangi nafsu makan. Menjadi warna dingin menciptakan sensasi ruang.
Biru menambah kekuatan dan kesatuan, dan terapi untuk pikiran dan tubuh. Ini
membawa harmoni kata yang diucapkan.
Berarti pengabdian yang bijaksana tak
kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang tenang dan mendalam
(pandangan hidup pancasila).
3. Buku
Dan Pena
Pena dan Buku, berkaitan dengan
membaca dan menulis sebagai simbol pendidikan. Buku merupakan sumber bagi
segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
4. Bintang
Warna Kuning
Melambangkan dasar falsafah Pancasila
yang menjadi cahaya bagi kehidupan sekolah yang berlandaskan penghayatan dan
pengamalan nilai keTuhanan, berani dan pantang menyerah.
5. Padi
dan Kapas
Berarti Kemakmuran guru, karyawan,
siswa dan masyarakat adalah tujuan untuk mencapai cita-cita sekolah
6. Pita
Warna Merah Putih
Berarti merah bermakna keberanian, kekuatan,
dan cinta dan Putih bermakana suci.
7. Tulisan
STAMSA
STAMSA adalah SD Negeri Tambahmulyo 01
ini menunjukkan bahwa Logo ini digunakan sebagai logo SD Negeri Tambahmulyo 01.
Kamis, 30 Mei 2013
Antara Pembelajaran Kolaboratif dengan Pembelajaran Kooperatif
Dalam bahasa Indonesia, kata kolaborasi dan kooperasi cenderung diartikan dalam makna yang sama yaitu kerjasama.
Menurut John Myers (1991) kata kolaborasi berasal dari bahasa Latin
dengan memfokuskan pada proses, sedangkan kooperasi bersumber dari
Amerika yang lebih menekankan pada hasil. Sementara itu, menurut Ted
Panitz (1996), istilah kolaborasi menunjuk pada filsafat interaksi dan
gaya hidup personal, sedangkan kooperasi lebih menggambarkan sebuah
struktur interaksi yang didesain untuk memfasilitasi pencapaian suatu
hasil atau tujuan tertentu.
Kolaborasi mengasumsikan pentingnya
kerjasama (koperasi) yang dibangun berdasarkan konsensus anggotanya,
bukan kompetisi individual diantara anggota kelompok. Dalam kelompok
akan terjadi pembagian peran, tugas dan wewenang dari setiap anggota
kekompok. Masing-masing anggota kelompok berusaha saling menghargai dan
memberikan kontribusi kemampuannya terhadap kegiatan kelompok.
Ketika seorang individu (baca: guru)
menerapkan filosofi ini ke dalam kelas, keluarga atau komunitas kelompok
lainnya untuk kepentingan pembelajaran maka itulah yang disebut
pembelajaran kolaboratif. Jadi, pembelajaran kolaboratif pada dasarnya
adalah sebuah filosofi personal, dan bukan hanya sekedar teknik dalam
pembelajaran di kelas (Ted Panitz , 1996).
Wikipedia (2013) merumuskan Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning)
sebagai situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar secara
bersama-sama, dengan memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama
lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama
lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll.). Sementara, pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) secara
umum dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran yang didesain
untuk membantu siswa agar dapat berinteraksi dan bekerjasama secara
kolektif, melalui tugas-tugas terstruktur guna mencapai tujuan
pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dikembangkan ke dalam berbagai
teknik, seperti: Think Pair Share, Jigsaw, STAD, TGT dan sebagainya.
Tradisi pembelajaran kolaboratif berasal
dari Inggris, para guru Bahasa Inggris berusaha mengeksplorasi cara-cara
untuk membantu siswa agar dapat berperan lebih aktif dalam proses
pembelajarannya, khususnya dalam mengkaji suatu literatur. Guru
menganalisis percakapan setiap siswanya ketika sedang menelaah atau
merespon bagian literatur. Sementara pembelajaran kooperatif
berkembang di Amerika dengan bersumber dari pemikiran John Dewey tentang
pentingnya belajar sosial dan pemikiran Kurt Lewin tentang dinamika
kelompok. (John Myers, 1991).
Untuk melihat perbedaan dan persamaan
dari kedua konsep pembelajaran ini, Matthews, et.al. (1995)
memerincinya seperti tampak dalam tabel berikut ini :
|
Perbedaan
|
|
|
Pembelajaran Kooperatif
|
Pembelajaran Kolaboratif
|
|
Para siswa menerima latihan keterampilan sosial dalam kelompok kecil.
|
Ada keyakinan bahwa para siswa telah memiliki keterampilan sosial yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran
|
|
Aktivitas-aktivitas terstruktur yang dirancang guru dan masing-masing siswa memiliki peran khusus.
|
Siswa mengatur dan menegosiasikan usahanya sendiri.
|
|
Guru mengamati, mendengarkan dan melakukan intervensi dalam kelompok jika diperlukan.
|
Aktivitas
tidak dimonitor oleh guru. Ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepada
guru, guru membimbing siswa-siswa untuk menemukan informasi yang
diperlukan.
|
|
Siswa menyerahkan tugas pada akhir pelajaran untuk dievaluasi.
|
Siswa menyimpan draft untuk dilengkapi pada pekerjaan selanjutnya.
|
|
Guru melakukan asesmen kinerja siswa secara individual maupun kelompok
|
Siswa
melakukan asesmen kinerja secara individual maupun kelompok,
berdasarkan konsensus kelompok kecil, kelas (pleno), maupun pertimbangan
masyakat keilmuan pada umumnya
|
Selain memiliki perbedaan, kedua konsep pembelajaran ini juga memiliki persamaan, yakni:
- Menekankan pentingnya pembelajaran aktif
- Peran guru sebagai fasilitator
- Pembelajaran adalah pengalaman bersama antara siswa dan guru
- Meningkatkan keterampilan kognitif tingkat tinggi
- Lebih banyak menekankan tanggungjawab siswa dalam proses belajarnya
- Melibatkan situasi yang memungkinkan siswa dapat mengemukakan idenya dalam kelompok kecil.
- Membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial dan membangun tim.
Rasa Humor Guru untuk Kelas yang Menyenangkan
Rasa humor (sense of humor) dapat
diartikan sebagai kecenderungan respons kognitif individu untuk
membangkitkan tertawa, senyuman, dan kegembiraan. Para ahli medis dan
psikologi sepakat bahwa rasa humor merupakan aset berharga dan amat
penting untuk kesehatan dan kebahagiaan hidup, yang bisa dimiliki oleh
setiap individu normal. Secara medis, rasa humor dapat membantu
mengatasi rasa sakit, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan
bahkan dapat memperpanjang usia. Secara sosio-psikologis, rasa humor
dapat membantu mengurangi stress dan kecemasan, mempermudah interaksi
sosial, dan dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih baik di
tengah-tengah situasi yang sulit. Mitchell Ditkoff menyebutkan bahwa humor merupakan salah satu ciri orang inovatif. Sementara, James C. Coleman mengatakan bahwa membangkitkan rasa humor merupakan salah satu cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.
Dalam pandangan saya, Almarhum Gus Dur, mantan presiden kita dengan “gitu aja koq repot”-nya, Prof. Moh. Surya, anggota DPD dan mantan Ketua PB PGRI dengan “kemederkaan adalah hak segala bangsa”-nya, Mario Teguh, sang motivator kondang dengan salam super Golden Way-nya, atau Deddy Corbuzier, mentalist yang klimis,
mereka adalah contoh dari orang-orang yang memiliki rasa humor. Mereka
bukan pelawak, tetapi pada saat melaksanakan tugasnya mereka kerap
menyuguhkan humor yang membuat orang tertawa dan tersenyum gembira.
Rasa humor yang mereka miliki merupakan karakter kuat yang secara
langsung ataupun tidak langsung dapat memperkokoh penampilan
profesi/jabatan yang digelutinya.
Bagi guru, memiliki rasa humor merupakan
modal personal yang sangat berharga sekaligus dapat menjadi daya pikat
tersendiri di mata siswanya. Rasa humor guru sangat berguna dalam upaya
menciptakan iklim kelas dan pengembangan proses pembelajaran yang lebih
sehat dan menyenangkan. Bahkan, Melissa Kelly menyebutkan bahwa rasa humor merupakan salah satu kunci untuk menjadi guru yang sukses. Menurut
Melissa, rasa humor guru dapat meredakan ketegangan suasana dan dapat
mencegah timbulnya perilaku disruptif siswa di kelas, serta bisa
dijadikan sebagai cara untuk menarik perhatian siswa di kelas. Dan yang
paling penting, dengan rasa humor yang dimilikinya, seorang guru akan
menunjukkan bahwa dia adalah sosok orang yang memiliki kepribadian dan
mental yang sehat, dapat menikmati hidup, serta mampu menjalani
kehidupan kariernya secara wajar tanpa stress.
Meski di bangku kuliah tidak pernah
diberikan mata kuliah yang secara khusus mengkaji tentang pengembangan
rasa humor di kelas, tetapi disini tampak terang bahwa guru perlu
berlatih dan membiasakan diri untuk memiliki kemampuan mengembangkan
rasa humor di kelas.
Dalam praktiknya, mengembangkan rasa
humor di kelas tidak bisa dilakukan secara serampangan tetapi memerlukan
cara dan kiat tersendiri. Berikut ini beberapa ide yang sering saya
praktikkan di kelas.
- Hubungkan dengan materi yang sedang diajarkan. Mungkin ini ide yang paling sulit untuk diterapkan karena tidak semua materi yang kita ajarkan kepada siswa bisa disisipi humor,– khususnya bagi Anda yang kurang terbiasa berartikulasi. Tetapi jika Anda mampu melakukannya, maka humor yang dikoneksikan dengan materi pelajaran bisa diyakini sebagai bentuk reinforcement yang dapat membantu siswa untuk mencerna dan menyimpan informasi secara lebih baik dalam sistem memori jangka panjangnya.
- Gunakan video atau gambar yang relevan. Untuk ide yang kedua ini, mungkin tidak sesulit ide yang pertama. Cukup dengan menggunakan jasa Eyang Google atau mesin pencari lainnya, Anda bisa mencari dan menemukan aneka video dan gambar yang dibutuhkan untuk kepentingan pengembangan rasa humor di kelas. Konten video atau gambar tidak harus persis identik dengan materi yang akan diajarkan, yang penting bisa dicari kaitannya (dihubung-hubungkan). Selanjutnya, sajikanlah video atau gambar tersebut di kelas secara atraktif. Usahakan setelah usai penayangan, mintalah kepada siswa untuk merefleksi tayangan tersebut, dikaitkan dengan materi yang sedang diajarkan.
- Lakukan pada waktu dan situasi yang tepat. Mengembangkan rasa humor tidak harus dilakukan sepanjang waktu pelajaran, karena Anda tidak sedang melawak di kelas. Sajikan rasa humor Anda ketika siswa Anda membutuhkannya. Misalnya, ketika siswa mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan atau ribut di kelas. Usahakan jangan mengulang topik humor yang sama pada kelas yang sama, Jika Anda mengulanginya, bukan kegembiraan siswa yang akan didapat tetapi malah mungkin menjadi sesuatu yang membosankan dan menyebalkan.
- Sampaikan secara etis dan tidak melecehkan siswa. Interaksi antara guru dengan siswa adalah interaksi pendidikan. Oleh karena itu, ketika Anda hendak menyampaikan humor di kelas harus tetap dalam bingkai pendidikan, baik dari segi konten maupun cara penyampaiannya. Hindari humor jorok dan berbau SARA, serta hindari bentuk humor yang dapat melukai harga diri seseorang, khususnya siswa, sekalipun humor itu sangat lucu dan dapat mengundang sebagian besar orang untuk tertawa dan bergembira.
- Mudah dipahami dan sesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Seorang guru berusaha mengembangkan humor tertentu di kelas, yang menurut dia humor itu sangat lucu, tetapi ternyata reaksi dari siswa malah datar-datar saja. Sangat mungkin hal ini disebabkan oleh konten humor yang terlalu tinggi sehingga sulit dicerna oleh pikiran siswa. Oleh karena itu, pilihlah secara jeli konten humor yang sesuai dengan daya tangkap siswa dan tingkat perkembangan siswa.
Begitulah ide dan pengalaman sederhana
saya tentang bagaimana mengembangkan rasa humor di kelas. Tentu masih
banyak ide dan pengalaman cerdas lainnya dari Anda, dan mari kita
diskusikan di ruang komentar yang telah disediakan untuk memperkaya
pemahaman kita tentang bagaimana mengembangkan rasa humor di kelas dan
menciptakan kelas yang lebih menyenangkan.
Selamat berhumor ria dan mari kita
belajarkan siswa-siswa kita dengan penuh suka cita agar mereka menjadi
orang-orang yang berbahagia!
Senin, 14 Januari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)

